Senin, 14 Oktober 2013

FESTIVAL ONDEL-ONDEL at Blok M

Jalan jalan ke Blok M, sebenarnya bukanlah tujuan awal ku..tetapi entah kenapa hal ini begitu menyenangkan. Oh ya..apa kalian tau..apa itu ondel-ondel? ondel-ondel itu semacam boneka kayu yang dalamnya terbuat dari anyaman bambu dan bagian dalamnya bolong sehingga orang bisa masuk dan mengangkatnya. binguuung???! kalo begitu..aku akan memperlihatkannya kepada kalian. semoga kalian menyukai hasil foto-foto ku.









Minggu, 29 September 2013

My Diary #1 : Manajer Cover Dance


Sejujurnya tidak terpikirkan oleh ku, jika aku akan masuk lebih jauh di dunia yang satu ini. awalnya karena aku begitu menyukai sesuatu hal. aku berharap yang terbaik untukku dan untuk adik-adik baruku ini. 
Aku begitu senang melihat betapa keras mereka berusaha, bahkan aku baru menyadari jika ada beberapa adikku yang di lingkungannya merupakan orang yang berbeda. Terkadang tidak memiliki teman atau bahkan sulit berkomunikasi dan beradaptasi dengan teman-temannya. tapi aku bersyukur disini mereka bisa saling melindungi dan saling mendukung dalam satu manajemen layaknya sebuah keluarga. 
Terkadang marah atau jengkel kerap aku sampaikan, bukan aku jika hanya bisa memendam dan membiarkan. tapi ini adalah bentuk sayang aku terhadap adik-adikku. aku memang bukan orang hebat,bukan orang yang sempurna tetapi aku akan terus berusaha menjadi orang yang bisa melakukan hal yang terbaik. 
Kalian tau..banyak teman-temanku yang selalu mencemooh...bahkan selalu berkata, ngapain sech..itu ga guna..ga cocok buat kamu. beragam kalimat sering dilontarkan tetapi kalian tau..aku begitu bahagia saat adik-adikku selesai tampil..melihat senyum mereka atau bahkan melihat betapa tegang mereka saat dibacakan pemenangnya. dan kalian belum tentu bisa meresakan hal itu..oh ya..aku punya 34 orang adik loh..banyak ya. dan sulit pula mengurus mereka,aku bersyukur aku memiliki 6 leader yang mau membantu dan beberapa member lainnya.
Aku ingin memperkenalkan adik-adikku kepada kalian semua.  Aku belum sempat memperlihatkan mereka satu persatu. next time mungkin aku bisa. Mungkin dalam bentuk foto dan video-nya ya


Excellent Star Entertainment 2011- 2013 terdiri dari :
1. SHYNee (Dance Cover Shinee)
2. Girls X Tion/GXT (Dance Cover Fx)
3. Girls Nine Dream/ G9D (Dance Cover Girls Generation)
4. StarPink (Dance Cover A Pink)
5. Flower A (Dance Cover Miss A)
6. EX-XO (Dance Cover EXO) 
Excellent Star Entertainment 2011- 2014 terdiri dari :
       7. EX-V (Project grup antara SHYNee dan EX-XO) - Cover Infinite
8. DIVA  ( Dance Cover Sistar)
9. Starfinite (Project grup)
10. AOEs  ( Project grup antara DIVA, Starpink dan GXT) -Cover AOA 

DEFINISI MEDIA PEMBELAJARAN



Media berasal bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar.  AECT (Association for education Communication and Technology) mengartikan media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Arsyad, 2008,3 ). Oleh karena itu secara umum, media dapat diartikan sebagai setiap bahan atau alat, orang atau peristiwa yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi yang kepada penerima yang dituju.

Gerlach & Ely ( lihat Azhar Arsyad 2008 : 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, kemampuan atau sikap. Apabila media tersebut membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media tersebut disebut dengan media pembelajara, atau bahan pengajaran, teknologi pendidikan atau media pendidikan. 

Berdasarkan beberapa uraian tersebut maka ciri-ciri dari media pembelajaran meliputi:
1.      Media pendidikan memiliki pengertian fisik yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panca indera
2.      Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik atau software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan pada siswa.
3.      Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan suara
4.      Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik didalam maupun luar kelas.
5.      Media pendidikan digunakan dalam rangka meningkatkan komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
6.      Media pendidikan dapat digunakan secara masal, kelompok besar dan kelompok kecil

Secara umum media pembelajaran dimaksudkan untuk membantu menyelenggarakan proses belajar-mengajar. Adapun manfaat media pembelajaran antara lain:
1.      Memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar
2.      Meningkatkan dan mengarahkan perhatian siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya.
3.      Mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu, misalnya karena objek terlalu besar, terlaku kecil, terlalu abstrak, kejadian langka, peristiwa alam, telah terjadi dimasa lampau atau yang lainnnya.
4.      Memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung. 

Pengaruh media dalam pembelajaran dapat dilihat dari jenjang pengalaman belajar yang akan diterima oleh siswa. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkret), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai pada lambang verbal (abstrak).

Secara umum media mempunyai kegunaan dapat memperjelas pesan agar tidak terlalu verbal. Media dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra. Dengan media akan menimbulkan gairah belajar, interaksi langsung antara pembelajar dengan sumber belajar, memungkinkan pembelajar belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya. Media pembelajaran suara visual dapat dihadirkan dengan bantuan komputer yang memungkinkan suatu bentuk media pembelajaran yang menarik.

Dewasa ini terdapat berbagai macam pilihan bentuk media dari media cetak, suara maupun suara, sehingga diperlukan kecermatan dari seorang pendidik untuk menentukan media pengajaran yang akan digunakan karena tanpa adanya kecermatan tersebut maka fungsi dari media tersebut tidak akan memberikan manfaat yang optimal. 

Oleh karena dalam pemilihan media harus memperhatikan kriteria-kriteria berikut (Azhar Arsyad 2008:75) :  Sesuai dengan tujuan yag ingin dicapai ,  Tepat untuk mendukung isi pembelajaran yang bersifat fakta, konsep, prinsip atau generalisasi,    Praktis dalam penggunaannya ,  Keterampilan guru dalam menggunakannya , Sasaran dan  Mutu teknis

Piaget, seorang ahli psikologi perkembangan (lihat Baitul Alim, 2009) menyatakan bahwa anak-anak dengan usia diatas 12 tahun masuk kedalam Tahap operasional formal (formal operational stage). Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berfikir logis, dan telah mulai memahami cara berfikir abstrak. Berdasarkan teori perkembangan kognitif ini maka siswa SMA dengan range usia 16-18 tahun telah dapat memahami sifat keabstrakkan pada materi ajar, seperti yang terdapat pada materi bentuk molekul. 

Namun berdasarkan penelitian Egdar Dale, akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Edgar Dale, membuat jenjang konkret-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol. Jenjang konkret-abstrak ini ditunjukkan dengan bagan dalam bentuk kerucut pengalaman (cone of experiment).

Suatu media dapat dikatakan baik  apabila bersifat efisien, efektif dan komunikatif (Sardiman, 2010: 206). Efisien bermakna memiliki daya guna ditinjau dari segi penggunaannya, waktu dan tempat. Efektif bermakna memberikan hasil guna yang tinggi ditinjau dari pesannya dalam kegiatan belajar. Sedangkan komunikatif bermakna hal-hal yang ditampilkan oleh media mudah untuk dipahami oleh siswa.

Rabu, 17 Oktober 2012

Abdul Kadir Audah (resume)


Ketika bukunya yang berjudul “at-Tasyri’ al-Jinaai fi al-Islam, Muqaranah bil Qanun al-Wadh’i” (Undang-undang Perdata dalam Islam, Perbandingannya dengan Hukum Positif),Para Ikhwan menyambut antusias buku tersebut dengan berlomba-lomba mengkajinya sehingga menjadi buku paling laris saat itu. Buku itu juga menciptakan perubahan sangat besar pada diri para cendekiawan Mesir, karena karya tersebut memaparkan kemuliaan syariat Islam terhadap hukum positif yang berlaku, dan juga pernah digunakan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan, problematika masyarakat dan hak-hak umat dan negara.

Buku ini juga dijadikan rujukan bagi para ulama, fuqaha, pakar undang-undang, dosen-dosen di berbagai perguruan tinggi, para hakim dan pengacara serta seluruh lapisan masyarakat. Sehingga buku tersebut telah cetak ulang lebih dari 13 kali, dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Misalnya bahasa Inggris, Prancis, Turki, Urdu, Indonesia dan sebagainya.

Ketika ustadz Hasan al-Hudhaibi diangkat sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin lalu ustadz Abdul Qadir Audah dipilih sebagai Wakil Ketua Umum Ikhwan, ia lalu mundur sebagai hakim dan memfokuskan diri dalam kerja dakwah sebagai bentuk tanggung jawab manajemen dan organisasi Jamaah Ikhwanul Muslimin

ia bertemu dengan Tuhannya sebagai syuhada di tiang gantungan pada tanggal 7/12/1954 atas perintah Jamal Abdul Nasser yang selama ini dendam kepada Abdul Qadir Audah karena kedudukan dan kekuatan kepribadiannya. Keputusan hukum gantung itu juga dijatuhkan kepada beberapa sahabat dekatnya: Muhammad Farghali, Yusuf Thal’at, Ibrahim ath-Thib, Mahmud Abdul Lathif dan Handawi Duwair.Eksekusi hukuman gantung terhadap enam sahabat itu pun berakhir satu persatu di dalam penjara Mesir hanya dalam waktu 3 jam.
Dan pada hari itu, murka dan amarah berdatangan dari berbagai negara Arab dan Islam kepada pemerintah Mesir yang tetap tidak bergeming dengan keputusannya. Tak bermanfaat sedikit pun rekomendasi dan permintaan maaf yang disampaikan para raja, pemimpin dan tokoh-tokoh dunia serta ulama dan kaum Muslimin agar Abdul Nasser yang tiran membatalkan keputusan itu. Ia bahkan mengakui kejahatan dan dosa atas pembunuhan mereka
Ustadz Abdul Qadir Audah adalah salah satu tokoh pergerakan Islam kontemporer. Salah satu da’i Islam pada masa kini dan pemimpin besar Ikhwanul Muslimin. Kalimat-kalimat yang diucapkannya didengar dengan sangat baik, dan posisinya yang penting, khususnya bagi Ikhwanul Muslimin dan seluruh masyarakat Mesir pada umumnya. Dia juga memiliki peran sangat menentukan dalam perjalanan berbagai peristiwa yang terjadi di Mesir, setelah kematian Imam Syahid Hasan al-Banna pada 12/2/1949M. Ia memikul beban dakwah ini bersama bersama Ustadz Hasan al-Hudhaibi, Mursyid kedua Ikhwanul Muslimin.
Ustadz Abdul Qadir Audah adalah intelektual cakap, hakim berpengalaman, pakar undang-undang yang brillian, apalagi setelah diterbitkannya buku-buku beliau lainnya setelah bukunya yang monumental “at-Tasyri’ al-Jinaa’I fi al-Islam”. Di antara karyanya yang lain itu adalah, al-Islam wa Aodha’una al-Qaanuniyah, al-Islam wa Aodha’una as-Siayasiah, al-Islam baena Jahli abnaaihi wa ‘Ajzi Ulamaaihi, al-Maalu wa al-Hukmu fi al-Islam, dan buku-buku lainya, disertasi, penelitian, dan makalah yang sudah beberapa kali cetak ulang dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Bahkan banyak mahasiswa Islam di berbagai dunia Arab dan Islam yang mengajukan program S1 dan S2 melalui karya-karya asy-Syahid Abdul Qadir Audah, karena dianggap sebagai pakar dalam bidang tersebut.

Dalam bukunya, at-Tasyri’ al-Jinai fi al-Islam, Ustadz Abdul Qadir Audah menulis, “Ketika saya membandingkan antara undang-undang yang kita gunakan pada masa ini dengan syariat, maka saya sesungguhnya sedang membandingkan antara undang-undang yang berubah, berkembang dan berjalan sangat cepat menuju kesempurnaan sehingga nyaris sampai pada batas kesempurnaan — sebagaimana yang mereka katakan — dengan syariat yang turun sejak 13 abad silam dan tidak mengalami perubahan sejak dahulu dan takkan berubah atau tergantikan hingga masa yang akan datang. Syariat yang pada tabiatnya takkan mengalami perubahan dan revisi, karena ia datang dari Allah, dan tidak ada perubahan pada kalimat Allah. Karena syariat itu juga berasal Kalam Allah yang menyempurnakan segala sesuatu. Dan segala sesuatu yang diciptakannya tidak lagi membutuhkan penyempurnaan dari ciptaan-Nya.
Ustadz Abdul Qadir Audah berkata, “Saya merasa memiliki kewajiban yang harus saya tunaikan segera, demi syariat, demi kawan-kawanku yang terdiri dari para tokoh undang-undang dan demi mereka yang mempelajarinya melalui riset lapangan. Kewajiban itu adalah memaparkan kepada manusia hukum-hukum syariat dalam masalah pidana dengan bahasa yang dipahami dan akrab bagi mereka. Sekaligus berusaha memperbaiki informasi dan pengetahuan yang dimiliki oleh pakar undang-undang tentang syariat, lalu menyebarluaskan di tengah manusia hakikat yang menghalangi mereka untuk mengetahui semua itu sejak dahulu disebabkan oleh kebodohan.
Undang-undang yang ada adalah buatan manusia, sementara syariat adalah ciptaan Allah. Hukum dan undang-undang yang berlaku dewasa ini sesungguhnya mempresentasikan kelemahan, kekurangan dan ketidakmampuan manusia. Dengan demikian, undang-undang tersebut sangat mungkin mengalami perubahan dan revisi, atau apa yang kita sebut dengan perkembangan. Ketika terjadi perkembangan pada sebuah jamaah atau lembaga ke arah yang tidak terduga, atau menemukan sebuah kondisi yang tidak pernah diprediksi kemunculannya, maka undang-undang itu akan selalu kurang dan takkan mungkin mencapai derajat kesempurnaan selama pembuat dan penyusunnya tidak mendapat predikat sempurna dan tidak memiliki kemampuan mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya, walau ia sangat memahami apa yang telah terjadi.
Adapun syariat, maka pembuatnya adalah Allah Azza wa Jalla, yang di dalamnya mempresentasikan kemampuan Sang Pencipta, kesempurnaan, keagungan dan penguasan-Nya atas apa telah dan sedang terjadi. Dengan demikian syariat tersebut diciptakan Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi sekarang dan akan datang. Demikian pula ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ini adalah perkara mulia yang tidak akan tergantikan.
Dalam bukunya “Al-Ikhwan al-Muslimun, Ahdats Shana’at at-Tarikh”, Ustadz Abdul Halim Mahmud berkata, “Pada awalnya, Ustadz Abdul Qadir Audah memimpin sekelompok Ikhwan yang tetap berprasangka baik kepada Abdul Nasser, menyikapinya prilakunya dengan baik sebagai anggapan bahwa dia adalah salah satu perwira Ikhwan yang harus diberi dukungan.”
Tidak dapat diragukan lagi bahwa ustadz Abdul Qadir Audah mampu menempati hati Ikhwan dengan cinta, penghormatan dan penghargaan. Bahkan saya merasa paling cinta, menghargai dan mengormatinya. Dia adalah kawan tercinta yang paling dekat pada hatiku di antara Ikhwan lainnya, dan paling saya kagumi dan cintai.
Ustadz Abdul Qadir Audah adalah sosok yang sangat dicintai oleh Imam Syahid Hasan al-Banna di kalangan Ikhwan. Ia terkadang menyebutnya penuh kebanggaan dan kemuliaan. Ketika Ustadz Hasan al-Hudhaibi diangkat sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin, maka Ustadz Abdul Qadir Audah juga adalah sosok yang dekat dengannya. Dan mungkin saja Ustadz Hasan al-Hudhaibi yang menyarankan padanya agar meninggalkan jabatannya sebagai hakim agar ia dapat lebih fokus sebagai wakil ketua Ikhwanul Muslimin.
TERUSAN SUEZ
Oktober 1951 konflik antara Mesir dn Inggris semakin memuncak. Ikhwan melancarkan perang urat saraf melawan Inggris di Terusan suez. Peristiwa ini telah direkam oleh Kamil Syarif dalam bukunya ‘Al-Muqawamat al-Sirriyyah fi Qanat Suwes. Tanggal 23 Juli 1952 pasukan Mesir di bawah pimpinan Muhammad Najib bekerja sama dgn Ikhwan melancarkan Revolusi Juli. Tetapi kemudian Ikhwan menolak kerja sama dalam pemerintahan krn mereka mempunyai pendapat dan pandangan yg jelas tentang metode revolusi. Jamal Abdunnashr menganggap penolakan tersebut sebagai penolakan terhadap mandat revolusi. Kemudian kedua belah pihak terlibat serangkaian konflik dan permusuhan yg semakin hari semakin tajam. Akibatnya tahun 1954 pihak pemerintah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap anggota Ikhwan dan beribu-ribu orang dijebloskan ke dalam penjara. Alasan pemerintah krn orang Ikhwan telah berupaya memusuhi dan mengancam kehidupan Jamal Abdunnashr di lapangan Mansyiyyah Iskandariyyah. Bahkan pemerintah Mesir telah menghukum mati 6 anggota Ikhwan.
Mengenai usahanya dalam memerangi Inggris di Terusan Suez dan pengangkatan pimpinan Ikhwanul Muslimin untuk amal jihad melawan mereka, Ustadz Kamil Syarif menulis dalam bukunya, al-Muqawamah as-Sirriyah fi Qanaat as-Suwaeis (Perlawanan Rahasia di Terusan Suez), “Di tengah malam buta, Oktober 1951, saya menerima selembar telegram yang di dalamnya terdapat tanda tangan Ustadz Abdul Qadir Audah, wakil ketua Umum Ikhwanul Muslimin, yang memintaku agar datang menemuinya di Kairo untuk membahas sebuah perkara yang sangat penting. Dengan kereta api, saya segera berangkat ke Kairo. Di dalam rumahnya pembicaraan berkisar tentang situasi genting dan berbagai kebutuhan yang terkait dengannya. Ia juga menyampaikan padaku bahwa Ikhwanul Muslimin telah memutuskan untuk memasuki peperangan di Qanat (terusan) Suez, dan menugaskanku untuk mempelajari situasi dan kondisi di wilayah Qanat sekaligus mempersiapkan laporan yang lengkap.
Beberapa hari kemudian saya menerima informasi melalui telepon yang memintaku agar menghadiri sebuah rapat penting di Zaqazik yang juga akan dihadiri oleh ustadz Abdul Qadir Audah, Ustadz Mahmud Abduh dan sejumlah jenderal Nizham Khash. Dalam pertemuan itu saya diberitahu oleh ustadz Abdul Qadir Audah bahwa ustadz Mahmud Abduh telah ditunjuk sebagai panglima perang yang akan kami terima instruksi dan perintahnya.
Ketika perselisihan semakin berkobar antara Ikhwan dengan Perwira Revolusi, Abdul Nasser segera menampakkan dusta dan permusuhannya, mengingkari seluru janji dan kesepakatan yang pernah ia buat, mengkhianati amanah dan Ikhwanul Muslimin. Ustadz Abdul Qadir Audah sebagai wakil ketua umum Ikhwan lalu menerbitkan manifesto bersejarah yang membantah berbagai tuduhan dusta dan kebohongan yang dilontarkan Abdul Nasser terhadap Ikhwan. Adapun judul manifesto tersebut adalah Hadza Bayaan li an-Naas “Ini adalah Penjelasan bagi manusia.”
Sebagian cuplikan dari penjelasan tersebut sebagai berikut: “Sesungguhnya dakwah kita telah melalui hari-hari yang sarat dengan berbagai peristiwa besar yang akan memiliki pengaruh terhadapnya pada masa yang akan datang, dan juga terhadap generasi yang akan datang. Adalah hak kalian untuk mengetahui berbagai peristiwa yang dihadapi dakwah ini, beragam situasi dan kondisi yang meliputi kalian dan dakwah ini agar semakin tampak jelas, sehingga sikap dan prilaku kita berada di atas kebenaran dan realita.
Apabila hak kalian terhadap pemimpin kalian adalah mencerahkan dan mengarahkan kalian, maka hak dakwah ini adalah ketika kalian melekatkan etika dakwah ini pada diri disertai batasan-batasannya. Pikiran kalian tunduk pada kekuasaannya, sehingga kalian tidak berfikir selain melalui Islam, tidak mengatakan sesuatu kecuali Islam menyukainya, dan kalian tidak beramal kecuali dalam bingkai Islam. Apabila kalian melakukan itu, maka sesungguhnya kalian telah mengikat diri-diri kalian dengan kitab Tuhan kalian, dengan Sunnah Rasullah dan menyempurnakan iman kalian. Ketahuilah bahwa tidak sempurna iman seorang mukmin sehingga ia berkata dan bekerja karena Allah dalam ridha dan amarah-Nya, cinta dan murka-Nya, dan dalam seluruh perbuatannya:

Wahai Ikhwan sekalian, kita bukanlah pelaku kezaliman karena Islam melarang kezaliman. Kita juga bukan penyeru fitnah, karena itu lebih kejam dari pembunuhan. Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin bila ia menjadi tukang fitnah dan tukang laknat. Tapi kita kita berjalan di atas jejak Rasulullah saw.; mengajak kepada kebaikan dengan cara yang hikmah dan nasehat yang baik. Kita selalu menghindar dari menyampaikan nasehat yang buruk, dan berusaha membela dan membalas dengan cara yang lebih baik dengan mengutamakan adab seorang mukmin, kesabaran, dan keyakinannya pada pertolongan Allah Azza wa Jalla.
Untuk kedua kalinya Jamaah Ikhwanul Muslimin dibubarkan. Sebagian besar anggotanya di tangkap dan dipenjara dengan berbagai tuduhan dusta yang dakwakan kepada mereka, dan dimusuhi oleh media massa. Ini adalah ujian yang baru dan cobaan yang mendatangkan kabar gembira berupa keridoan Allah terhadap jamaah ini.
itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar.” [QS. Ali Imran, 3: 179]
[*] yaitu: keadaan kaum muslimin bercampur baur dengan kaum munafikin.
[**] di antara rasul-rasul, nabi Muhammad s.a.w. dipilih oleh Allah dengan memberi keistimewaan kepada beliau berupa pengetahuan untuk menanggapi isi hati manusia, sehingga beliau dapat menentukan siapa di antara mereka yang betul-betul beriman dan siapa pula yang munafik atau kafir.
Sabar menghadapi Cobaan
Nasehat terakhir untuk Ikhwan adalah, agar mereka memperbaiki hubungannya dengan Allah Ta’ala dan saudara-saudaranya, saling meneguhkan diri dalam ketaatan kepada-Nya, tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, bersiap siaga dan saling menasehati dalam kesabaran. Mereka juga harus mengetahui bahwa sesungguhnya Jamaah Ikhwanul Muslimin tidak dapat dibubarkan karena kertas-kertas miliknya disita, atau kantornya ditutup. Tapi Jamaah ini bubar bila hubungan mereka runtuh, jiwa mereka kosong dari cinta kepada saudara-saudara dan kepada dakwah ini. Dakwah ini tidak akan pernah lenyap bila di dalam hati mereka tumbuh cinta kepadanya, jiwa mereka senantiasa berzikir kepada Allah, dan selama mereka mempersembahkan jiwa-jiwa mereka untuk dakwah; hidup di dalamnya, hidup dengannya dan untuknya, serta berkorban di atas jalannya.
Ia berdiri di samping gerakan 23 Juli 1952, karena ia menduga bahwa Abdul Nasser akan mengimplementasikan beberapa point kebaikan yang selama ini ia kumandangkan di hadapan khalayak ramai. Apa yang dilakukannya membuat marah sebagian besar kawan-kawannya dan para pencintanya. Dan ketika kedok Abdul Nasser terbongkar dan mulai tampak hakikat yang sebenarnya, ia pun mengambil jalan yang ia haruskan untuk dirinya dalam kehidupannya selama ini—jalan kebenaran dan kejujuran—ketika Abdul Nasser berkata kepadanya, “Saya akan membunuh setiap orang yang coba menghalangi jalanku.” Ustadz Abdul Qadir Audah berujar tegas, “Tapi siapa saja yang tersisa di antara mereka (tidak terbunuh olehmu) akan menghabiskan usianya untuk memberangus para tiran dan orang-orang zhalim sepertimu”.
Pada tanggal 28 Februari 1954, ribuan massa melakukan aksi menuntut agar pemerintah meninggalkan berbagai bentuk kezhaliman dan menyingkirkan orang-orang zhalim. Ribuan massa itu memenuhi lapangan Abidin, menuntut Presiden Muhammad Najib agar membebaskan para tahanan, dan menyingkirkan aparat yang kejam serta menghukum mereka yang telah membunuh beberapa demonstran ketika mereka menggelar aksi di Istana Nil, sekaligus menuntut agar pemerintah melaksanakan syariat Allah, Tuhan semesta alam.
Para penguasa negeri hari itu sadar betapa sangat gentingnya situasi saat itu. Mereka lalu meminta kepada para demonstran agar kembali ke rumah mereka masing-masing. Tapi para demonstran itu seakan tidak mendengar. Muhammad Najib lalu meminta bantuan asy-Syahid Abdul Qadir Audah agar menenangkan situasi, dan ia berjanji akan memenuhi tuntutan massa.
Dari atas balkon istana Abidin, asy-Syahid Abdul Qadir Audah meminta massa agar kembali ke kediaman mereka dengan tenang dan tertib, karena Presiden Muhammad Najib telah berjanji akan memenuhi permintaan mereka. Seketika itu juga, lautan massa yang memenuhi lapangan Abidin beranjak meninggalkan tempat itu. Melalui logika diktator yang menguasai negeri Mesir ketika itu, sudah seharusnya bagi mereka mengeluarkan keputusan menentukan terkait dengan Abdul Qadir Audah. Karena bila ia mampu memulangkan ribuan massa yang datang dari berbagai penjuru yang menuntut dibebaskannya belenggu kemerdekaan, melapangkan ruang kehidupan yang konstitusional, lurus dan bijaksana, memenuhi janji dan menunaikan amanah, maka asy-Syahid telah mempresentasikan dirinya sebagai petaka dan marabahaya bagi pemerintah sebagaimana dipahami oleh mereka, bahwa ia telah menekan lonceng yang seruannya akan segera didengar dan dipatuhi, sehingga umat pun bergerak untuk berdiri atau duduk.
Aksi ribuan massa di lapangan Abidin adalah konsideran pertama dan paling penting bagi penguasa untuk menjatuhkan hukuman gantung terhadap asy-Syahid Abdul Qadir Audah. Karena itu, tidak aneh bila ia dan sebagian besar sahabatnya ditangkap sore hari itu juga, lalu di tahan di penjara al-Harby dari jam 4 sore hingga pukul 7 pagi. Algojo dan petugas penjara bergantian memukulinya dengan buas dan kejam.
Di Tiang Gantungan dan Balasan untuk setiap Perwira Revolusi
Ketika para algojo membawanya bersama sahabat-sahabatnya untuk dieksekusi mati, dengan penuh keberanian asy-Syahid Abdul Qadir Audah maju ke tali gantungan, seraya menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta’ala. Adapun kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum eksekusi itu adalah, “Sesungguhnya tetes darahku akan menjadi laknat bagi setiap Perwira Revolusi (Abdul Nasser cs.).”
Dan Allah Ta’ala mengabulkan doanya; tetes darah Abdul Qadir Audah menjadi laknat atas mereka semua. Sehingga tak seorang pun dari pelaku kezhaliman itu terlepas dari balasan Allah di dunia. Berbagai siksa dan penderitaan tak putus-putusnya menimpa mereka. Adapun Jamal Salim, ketua pengadilan terkena penyakit saraf. Saudaranya, Shalah Salim, ginjalnya tidak berfungsi, air kencingnya tertahan dan mati keracunan. Syamsu Badran, ia dihukum seumur hidup. Marsekal Abdul Hakm ‘Amir mati bunuh diri atau keracunan. Hamzah Basuni ditabrak truk gandeng sehingga dagingnya cerai berai di tempat terbuka. Prajurit Ghanim ditemukan sudah jadi mayat di areal perkebunan. Mayor Yasin diserang oleh untanya sendiri, lalu menginjak lehernya hingga mati. Dan masih sangat banyak di antara pelaku kezhaliman atau pembantu terjadi kezhaliman terhadap Ikhwanul Muslimin, yang Allah Ta’ala perlihatkan kepada kita semua keajaiban kekuasaan-Nya.
Adapun pemimpin besar mereka, komandan kejahatan mereka, Abdul Nasser, maka kehidupannya dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan, saat dia tersadar atau dalam keadaan tidur. Bahkan aliran air menggenang di atas kuburannya sehingga menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Dan Allah Ta’ala akan selalu memenangkan perkara-Nya.
Kita sudah melihat tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla pada diri orang-orang zhalim yang telah melakukan kejahatan terhadap Ikhwanul Muslimin. Faruq menggebah Ikhwan pada tahun 1948, lalu ia disingkirkan sebagai raja dan diasingkan pada tahun 1952. Abdul Nasser melakukan kejahatan terhadap Ikhwan tahun 1954, lalu muncul agresi tiga negara terhadap Mesir, dan invasi Israel atas Sinai dan Port Sa’id.

Minggu, 29 Juli 2012

Kota Tua, Jakarta


tidak dapat dipungkiri masa depan itu penting..tapi akan lebih baik jika kita pernah mengenal dan mempelajari bagaimana orang dahulu berkreasi..entah lewat pemikirannnya hingga bangunan dan hasil karyanya..yang sampai saat ini masih bisa kita nikmati,...coba saja..kota-kota di Indonesia mampu mengelola bangunan peninggalan penjajah dengan sangat apik..menjadikannya tempat bersejarah hingga jadi pusat kebudayaan dan pembelajaran untuk kaum muda khususnya..atau bahkan mungkin bisa jadi Pariwisata...hingga wisman datang silih berganti..apalagi jika ditempat-tempat itu diadakan berbagai kegiatan seni..pasti bisa jadi berbeda daripada saat ini. tak terawat..terbuang percuma..hanya bisa hancur dan hilang dijadikan semacam kenangan masa lampau.
untuk melihat semua foto-foto keindahan kota tua..cek fi Fb ya..
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.448836235136768.98740.100000311872447&type=1